Kajian Ramadhan.
Kajian kedua.
Keutamaan puasa.
Segala puji bagi Allah Yang Maha Lembut, Maha Penyantun, Maha Pemberi, Yang Maha Kaya, Maha Kuat, Maha Penyabar, Maha Mulia, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dia al-Awwal, tidak ada yang mendahului-Nya; al-Akhir, tidak ada yang sesudah-Nya; azh-Zhahir, tidak ada yang di atas-Nya; al-Bathin, tidak ada sesuatu di bawah-Nya; Dia mengetahui segala yang akan dan sudah terjadi. Dia berkuasa untuk membuat mulia dan membuat hina, dan membuat butuh dan tidak butuh. Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Setiap hari Dia mengatur urusan. Dia memancang bumi dengan gunung-gunung di berbagai penjuru serta mengirimkan awan yang berat dengan membawa air untuk dijatuhkan di bumi agar bumi itu menjadi hidup. Allah menetapkan seluruh penghuni bumi untuk memberikan balasan yang buruk kepada orang-orang yang berbuat buruk serta memberikan balasan kebaikan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
Aku memuji Allah atas sifat-sifat-Nya yang sempurna dan baik. Aku juga bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang sempurna. Dengan bersyukur, pemberian dan karunia dari Allah akan semakin bertambah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah jua, tidak ada sekutu bagi-Nya, Raja yang memutuskan perkara. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus untuk sekalian manusia dan jin. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau dan para shahabat serta tabi'in yang senantiasa mengikuti mereka dengan berbuat baik hingga masa berganti masa.
Saudara sekalian, ketahuilah bahwa puasa merupakan bagian dari 'ibadah yang paling utama dan bentuk keta'atan yang paling agung. Banyak sekali hadits yang menyebutkan hal ini dan sudah banyak yang populer di kalangan masyarakat.
Di antara keutamaan puasa adalah bahwa Allah Sub-haanahu wa Ta'aala telah menetapkannya dan mewajibkannya atas seluruh ummat manusia. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Qur-an Surat al-Baqarah (2): ayat 183)
Kalau saja ia bukan merupakan 'ibadah agung yang mesti dilakukan oleh hamba untuk ber'ibadah kepada Allah berikut pahala besar yang bakal diterimanya, tentu Allah tidak mewajibkannya atas seluruh ummat.
Di antara keutamaan puasa di bulan Ramadhan adalah bahwa ia menjadi penyebab diampuninya dosa dan dihapuskannya kesalahan-kesalahan. Dalam kitab Shahihain disebutkan riwayat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa mengerjakan puasa Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharap pahala, maka ia diberi ampunan atas dosa yang telah ia lakukan."
Artinya, pelaksanaan puasa yang didasari oleh keimanan kepada Allah dan kerelaan atas kewajiban puasa yang dibebankan atas dirinya serta karena mengharap dan menghitung pahala yang akan diberikan oleh Allah, tidak benci terhadap kewajiban ini dan juga tidak ragu terhadap pahalanya. Jika hal-hal tersebut dilakukan, maka Allah akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa yang terlanjur ia lakukan.
Dalam kitab Shahiih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Shalat yang lima (waktu), jum'at ke jum'at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, menghapuskan (dosa-dosa) yang ada di antara keduanya, jika dosa-dosa besar dijauhi."
Keutamaan puasa Ramadhan lainnya adalah bahwa pahalanya tidak terbatas dengan jumlah tertentu, akan tetapi orang yang berpuasa akan diberi pahala tanpa hitungan. Dalam kitab Shahiihain disebutkan riwayat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: 'Setiap 'amalan anak Adam itu adalah menjadi haknya, kecuali puasa. Sesungguhnya ia menjadi hak-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya.' Puasa adalah perisai. Maka jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, hendaklah ia tidak berkata kotor dan tidak berteriak-teriak. Jika ada seseorang mencelanya atau memeranginya, maka hendaklah ia berkara: 'Aku sedang berpuasa!' Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi. Orang yang berpuasa punya dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya."
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
"Setiap 'amal perbuatan anak Adam menjadi miliknya yang dilipatgandakan kebaikannya (pahalanya) sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: 'Kecuali puasa, karena sesungguhnya ia milik-Ku dan Aku akan membalasnya sendiri. Orang yang berpuasa itu meninggalkan nafsu dan makanannya demi Aku'."
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan puasa dari beberapa segi.
Pertama: Allah Sub-haanahu wa Ta'aala mengkhususkan 'ibadah puasa ini hanya untuk diri-Nya di antara segala 'amalan 'ibadah lainnya. Ini disebabkan karena kemuliaan 'ibadah ini di sisi-Nya, kecintaan Allah kepada 'amalan ini, serta lahirnya keikhlasan dalam melaksanakannya. Sebab, ini merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya, yang hanya Allah saja yang tahu. Orang yang berpuasa itu berada di tempat yang sepi dari manusia yang sebenarnya memungkinkan baginya untuk makan apa yang diharamkan oleh Allah atasnya namun ia tidak mau, karena ia berpuasa. Sebab, ia mengetahui bahwa ia punya Rabb yang senantiasa mengetahuinya dalam kesendiriannya sekalipun. Allah telah mengharamkan makan barang haram, kemudian ia meninggalkan barang haram itu semata karena takut kepada sanksi dari Allah di samping keinginan untuk meraih pahala dari-Nya. Oleh karena itu, Allah merasa berterima kasih kepadanya atas ketulusan itu, dan kemudian Allah mengkhususkan 'amalan puasa hamba-Nya itu hanya untuk diri-Nya di antara sekian banyak 'amalan lainnya. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Ia meninggalkan nafsu dan makanannya hanya karena Aku." Kekhususan faedah ini terlihat dengan jelas pada hari Kiamat, sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan bin Uyainah rahimahullah: "Pada hari Kiamat nanti Allah akan menghisab hamba-Nya lalu menuntut kezhaliman-kezhaliman yang dilakukannya dengan menguras seluruh 'amalannya untuk menutupi kezhalimannya itu. Sehingga apabila tidak tersisa lagi kecuali 'amalan puasa, maka Allah akan memaafkan kezhalimannya yang tersisa kemudian memasukkannya ke dalam Surga karena 'amalan puasanya."
Kedua: Allah Sub-haanahu wa Ta'aala mengatakan (tentang puasa): "Dan Aku yang akan memberikan balasannya." Allah menyandarkan balasan 'ibadah puasa ini kepada diri-Nya yang Mulia, karena 'amal-'amal shalih itu akan dilipatgandakan dengan jumlah tertentu, mulai dari sepuluh hingga sepuluh kali lipat sampai kepada lipatan yang sekian banyak. Sedangkan 'ibadah puasa langsung dibalas dan dilipatgandakan sendiri oleh Allah tanpa perhitungan jumlah. Allah adalah Dzat yang paling dermawan dan pemurah. Pemberian itu tergantung siapa yang memberi. Dengan demikian pahala puasa itu sangat besar dan sangat banyak tanpa kalkulasi angka. Puasa adalah bentuk kesabaran dalam melakukan keta'atan kepada Allah, kesabaran dalam meinggalkan larangan-larangan Allah, dan kesabaran terhadap ketentuan Allah yang tidak menyenangkan, berupa rasa lapar, haus, serta lemahnya badan. Dalam 'ibadah puasa terhimpun tiga bentuk kesabaran, dan ini akan mengantarkan orang yang berpuasa menjadi bagian dari orang-orang yang bersabar. Sedangkan Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: 'Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.' (Qur-an Surat az-Zumar (39): ayat 10)
Ketiga: Puasa adalah perisai. Maksudnya adalah pelindung yang akan menjaga dan melindungi orang yang berpuasa dari perbuatan kesia-siaan dan perbuatan kotor. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak."
Di samping itu juga, karena puasa akan menjaganya dari api Neraka. Oleh karena itu -Imam Ahmad dengan isnad hasan meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa- Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Puasa adalah perisai yang bisa digunakan oleh hamba untuk melindungi diri dari Neraka."
Keempat: Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, karena ia merupakan bagian dari dampak puasa. Dengan demikian bau mulut itu harum sekali di sisi Allah dan sangat dicintai oleh-Nya. Ini merupakan dalil yang menunjukkan keagungan puasa di sisi Allah sehingga sesuatu yang dibenci dan menjijikkan di mata manusia menjadi disukai di sisi Allah dan bahkan harum. Sebab, ia ditimbulkan oleh pelaksanaan keta'atan kepada Allah berupa 'ibadah puasa.
Kelima: Orang yang berpuasa memperoleh dua kesenangan; kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika kelak bertemu dengan Rabb-nya. Kebahagiaannya ketika ia berbuka adalah karena ia merasa senang atas nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya, yaitu bisa melaksanakan 'ibadah puasa yang merupakan bagian dari bentuk 'amal shalih yang paling utama. Betapa banyak orang yang tidak memperoleh karunia itu sehingga ia tidak berpuasa. Ia juga merasa senang atas makanan, minuman dan jimak yang dihalalkan kembali oleh Allah baginya setelah sebelumnya diharamkan pada saat berpuasa.
Sedangkan kebahagiaannya ketika bertemu dengan Rabb-nya adalah karena ia senang sekali dengan 'ibadah puasanya ketika ia mendapatkan balasannya di sisi Allah secara utuh pada saat dimana ia jauh lebih membutuhkannya ketika dikatakan: "Dimana orang-orang yang berpuasa?" Mereka dipersilakan masuk ke dalam Surga dari pintu Rayyan yang tidak akan dimasuki oleh seorang pun selain mereka.
Hadits ini berisi petunjuk dan bimbingan bagi orang yang berpuasa jika ia dicela atau diperangi oleh seseorang agar jangan melakukan pembalasan dengan hal yang sama, sehingga orang yang mencaci tidak semakin menambah caciannya. Begitu pula ia tidak boleh melemah di hadapannya dengan mengambil sikap diam saja, akan tetapi ia harus memberitahukan kepadanya bahwa ia sedang berpuasa. Ini merupakan isyarat bahwa ia tidak akan melakukan pembalasan yang sama karena menghormati 'ibadah puasa. Bukan karena lemah dan tidak mampu membalas. Serta-merta, orang yang mencaci akan menghentikan perbuatannya. "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yanga sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Qur-an Surat Fushshilat (41): ayat 34-35)
Di antara keutamaan puasa adalah bahwa ia akan memberikan syafa'at kepada orang yang meng'amalkannya pada hari Kiamat. Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Amru radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Puasa dan al-Qur-an akan memberikan syafa'at kepada hamba pada hari Kiamat. Puasa akan berkata: 'Ya Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makanan dan nafsu. Karena itu syafa'atkanlah aku padanya!' Sedangkan al-Qur-an berkata: 'Aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari. Karena itu syafa'atkanlah aku padanya!' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Keduanya kemudian menjadi syafa'at'."
(Hadits Riwayat Imam Ahmad) (5)
Keutamaan puasa tidak bisa diraih sehingga orang yang berpuasa itu menjaga betul adab-adabnya. Karena itu, bersungguh-sungguhlah di dalam menjalankan puasa kalian dan peliharalah batasan-batasannya. Bertaubatlah kepada Allah dari segala kekurangan kalian di dalamnya.
Ya Allah, peliharalah puasa kami dan jadikanlah ia sebagai pensyafa'at bagi kami. Berilah kami ampunan, untuk kami sendiri dan juga kedua orang tua kami serta seluruh kaum muslimin. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta kepada keluarga dan para Shahabat beliau.
Baca juga:
Hukum Puasa Ramadhan
===
Catatan Kaki:
5) Diriwayatkan juga oleh Imam ath-Thabrani dan al-Hakim, ia menyatakan shahih berdasarkan syarat Imam Muslim. Imam al-Mundziri berkata: "Rijal hadits ini dapat dijadikan sebagai pegangan untuk menentukan sebagai hadits shahih."
===
Maraji'/Sumber:
Kitab: Majaalis Syahri Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, Penerbit: Daruts Tsuroyya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.