Kajian Ramadhan.
Kajian Pertama.
Keutamaan Bulan Ramadhan.
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, menciptakan air dan tanah, serta yang membuat kreasi jagad raya. Tidak ada makhluk sekecil semut pun yang berjalan di malam hari yang tidak Ia ketahui, dan tidak ada sesuatu sekecil atom pun, baik di langit maupun di bumi, kecuali pasti diketahui oleh Allah. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dia-lah Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah (dengan benar) melainkan Dia, Dia mempunyai al-Asmaa-ul husnaa (nama-nama yang baik). (Qur-an Surat Thaha (20): ayat 6-7)
Allah telah menciptakan Adam lalu mengujinya, dan kemudian memilihnya, memberikan ampunan serta memberikan petunjuk kepadanya. Allah mengutus Nabi Nuh 'alaihis salam untuk kemudian membuat bahtera atas perintah Rabb-nya, dan bahtera itu pun berlayar. Allah juga telah menyelamatkan al-Khalil (Ibrahim 'alaihis salam) dari api sehingga panas api justru berbalik menjadi dingin dan memberikan kenyamanan bagi Ibrahim. Maka perhatikanlah apa yang telah terjadi. Allah juga telah memberikan sembilan ayat (mukjizat tanda kekuasaan Allah), namun ternyata fir'aun tidak juga sadar dan tidak menyesal. Allah juga telah meneguhkan Nabi 'Isa 'alaihis salam dengan kemukjizatan-kemukjizatan yang mencengangkan manusia. Allah juga telah menurunkan Kitab Suci al-Qur-an kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang di dalamnya terdapat bukti-bukti kebenaran yang jelas serta petunjuk.
Aku memuji Allah atas nikmat-Nya yang tidak pernah berhenti. Aku panjatkan shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diutus di kota Makkah. Semoga hal itu juga tercurahkan kepada shahabat beliau shallallahu 'alaihi wa sallam di gua, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang tidak pernah ragu; kepada 'Umar radhiyallahu 'anhu yang selalu mendapat ilham dalam pendapatnya dimana ia melihat dengan cahaya dari Allah; kepada 'Utsman radhiyallahu 'anhu, suami kedua putri beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara mengada-ada; dan kepada kemenakan (-sepupu-) beliau shallallahu 'alaihi wa sallam 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang menjadi gudang 'ilmu dan singa padang pasir; serta kepada seluruh keluarga dan para shahabat beliau radhiyallahu 'anhum yang keutamaannya menyebar di seluruh penjuru bumi.
Saudara sekalian, sekarang ini kita sedang dinaungi oleh bulan yang mulia. Pada bulan ini Allah membesarkan pahala dan karunia-Nya, serta membukakan pintu-pintu kebaikan bagi siapa saja yang Ia sukai. Bulan ini adalah bulan yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan, bulan penuh 'hadiah' dan anugerah. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (Qur-an Surat al-Baqarah (2): ayat 185)
Ramadhan adalah bulan yang diliputi oleh rahmat, ampunan dan keterbebasan dari Neraka. Bagian awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan (maghfirah), dan bagian akhirnya adalah keterbebasan dari Neraka. Keutamaan bulan Ramadhan banyak disebutkan oleh hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam kitab Shahiihain (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim) disebutkan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Jika telah tiba bulan Ramadhan, maka pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu."
Pintu-pintu Surga pada bulan ini dibuka karena banyaknya 'amal shalih serta sebagai dorongan kepada orang-orang yang mau ber'amal. Pintu-pintu Neraka ditutup karena sedikitnya kemaksiatan dari orang beriman. Dan syaithan-syaithan dibelenggu sehingga mereka tidak bisa bebas leluasa sebagaimana pada selain bulan Ramadhan.
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ummatku diberi lima sifat pada bulan Ramadhan yang belum pernah diberikan kepada satu ummat pun dari ummat-ummat sebelumnya. (1) Bau mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi. (2) Para Malaikat memohonkan ampunan buat mereka hingga mereka berbuka. (3) Allah menghias Surga-Nya setiap hari dengan mengatakan: Para hamba-Ku yang shalih hampir saja mencampakkan kebendaan dunia dan kepenatan, untuk bergegas memasukimu. (4) Syaithan-syaithan durhaka ketika itu dibelenggu sehingga mereka tidak lagi bisa melepaskan diri sebagaimana pada bulan lain. (5) Mereka diberi ampunan pada akhir malam." Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apakah maksudnya malam Lailatul Qadar?" Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Bukan. Orang yang bekerja itu akan diberi upah ketika ia selesai melakukan pekerjaannya." 1)
Saudaraku sekalian, kelima bagian ini sengaja disimpankan oleh Allah untuk kalian, dan sengaja pula dikhususkan buat kalian di antara seluruh ummat yang ada. Allah memberikan anugerah kepada kalian untuk menyempurnakan nikmat-Nya kepada kalian. Betapa banyak nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kalian. Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Qur-an Surat Ali 'Imran (3): ayat 110)
1. Sifat pertama.
"Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi." 2) Yang dinamakan khaluuf atau khuluuf (bau mulut) adalah perubahan bau mulut ketika lambung tidak terisi makanan. Bau mulut ini tidak disukai oleh orang, akan tetapi di sisi Allah lebih harum daripada aroma kesturi. Sebab, ia muncul akibat mengerjakan 'ibadah kepada Allah dan melakukan keta'atan kepada-Nya. Segala hal yang tumbuh dari ber'ibadah kepada Allah dan dari melakukan keta'atan kepada-Nya, maka sesuatu itu dicintai oleh-Nya. Allah akan memberikan ganti kepada pemiliknya dengan yang lebih baik, lebih utama dan lebih bagus. Tidakkah kalian perhatikan orang yang mati syahid di jalan Allah yang hanya karena menginginkan agar kalimat Allah yang menang, maka pada hari Kiamat ia datang dengan luka yang mengalirkan darah, warnanya memang warna darah akan tetapi aromanya adalah aroma kesturi.
Berkenaan dengan hajji, Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berbangga di hadapan para Malaikat dengan orang-orang yang sedang wuquf di padang 'Arafah, dengan mengatakan:
"Perhatikanlah para hamba-Ku. Mereka datang kepada-Ku dengan kusut dan penuh debu." (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahiih-nya) 3)
Keadaan kusut pun disukai oleh Allah di tempat ini, karena kekusutan itu disebabkan karena sedang melaksanakan keta'atan kepada Allah dengan menjauhi segala larangan ihram serta menjauhi kemegahan hidup.
2. Sifat kedua.
Para Malaikat memohonkan ampun untuk mereka sampai mereka berbuka puasa. Para Malaikat adalah hamba-hamba yang mulia di sisi Allah. Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qur-an Surat at-Tahrim (66): ayat 6)
Dengan demikian segala do'a dan permohonan mereka untuk orang-orang yang berpuasa sangat pantas untuk dikabulkan oleh Allah Sub-haanahu wa Ta'aala, karena Allah telah memberikan restu kepada mereka untuk memanjatkan do'a buat orang-orang yang berpuasa itu. Allah memberikan restu kepada mereka untuk memohonkan ampun untuk orang-orang yang berpuasa dari kalangan ummat ini sebagai bentuk pujian terhadap mereka, penyebutan keagungan mereka, serta sekaligus menjelaskan tentang keutamaan puasa yang mereka kerjakan. Yang dinamakan istighfaar adalah memohon ampun, yaitu penutupan dan penghapusan dosa di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bagian dari bentuk permohonan dan tujuan yang paling tinggi. Setiap manusia pasti punya salah dan seringkali berbuat lalai sehingga mereka harus mendapatkan maghfirah (ampunan) dari Allah.
3. Sifat ketiga.
Allah menghiasi Surga orang itu setiap harinya, seraya berkata: "Para hamba-Ku yang shalih hampir mencampakkan kebendaan dan kepenatan dunia serta menuju kepadamu" untuk persiapan menyambut para hamba-Nya yang shalih dan juga untuk mendorong mereka agar sampai kepada Surga itu. Maksud perkataan Allah: "Para hamba-Ku yang shalih hampir mencampakkan kebendaan dan kepenatan dunia serta menuju kepadamu" adalah: meninggalkan harta benda duniawi dan segala keletihannya untuk kemudian bergegas menuju 'amal shalih yang akan membawa kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat serta agar bisa meraih kampung kedamaian dan kemuliaan (Surga).
4. Sifat keempat.
Syaithan-syaithan durhaka ketika itu dibelenggu dengan rantai sehingga mereka tidak lagi bisa mencapai apa yang mereka kehendaki terhadap hamba-hamba Allah yang shalih yang berupa penyesatan dari kebenaran serta melemahkannya dari berbuat kebaikan. Ini merupakan pertolongan dari Allah bagi mereka dengan cara menahan (memenjarakan) musuh mereka yang selalu mengajak golongannya agar menjadi bagian dari para penghuni Neraka. Oleh karena itu, orang-orang shalih ketika itu mempunyai semangat untuk melakukan kebaikan serta membersihkan diri dari keburukan pada bulan ini melebihi bulan-bulan lain.
5. Sifat kelima.
Allah Sub-haanahu wa Ta'aala memberikan ampunan kepada ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada akhir malam di bulan ini (4) jika mereka mengerjakan apa yang seyogyanya mereka kerjakan pada bulan yang penuh barakah ini, yaitu 'ibadah puasa dan shalat malam (tarawih) dengan memberi pahala kepada mereka langsung setelah mereka selesai melaksanakan 'amalan. Orang yang bekerja itu diberi upah ketika ia selesai mengerjakan tugasnya.
Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berkenan memberika pahala seperti ini kepada para hamba-Nya oleh karena adanya tiga hal:
Pertama: Allah telah mensyari'atkan berbagai 'amal shalih yang menjadi penyebab terampuninya dosa-dosa mereka dan meningkatnya derajat mereka. Kalau saja Allah tidak mensyari'atkan hal itu tentu saja mereka tidak boleh ber'ibadah kepada Allah dengan melaksanakan 'amalan itu. 'Ibadah hanya boleh dilaksanakan berdasarkan wahyu dari Allah kepada Rasul-Nya. Oleh karena Allah menolak siapa saja yang membuat syari'at (aturan 'ibadah) serta menganggap hal itu sebagai bentuk syirik. Allah berfirman: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (Qur-an Surat asy-Syura (42): ayat 12)
Kedua: Allah Sub-haanahu wa Ta'aala memberikan petunjuk kepada mereka untuk mengerjakan 'amal shalih yang ditinggalkan oleh banyak manusia. Kalau saja bukan karena petolongan Allah kepada mereka dan petunjuk-Nya tentu mereka tidak mengerjakan 'amalan itu. Hanya milik Allah-lah segala karunia. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan ke-Islaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke-Islamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah, yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Qur-an Surat al-Hujurat (49): ayat 17)
Ketiga: Allah berkenan memberikan pahala yang banyak. Kebaikan itu dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus lipat kebaikan (pahala) hingga ada yang tak terhingga. Karunia dan pahala dari Allah bisa diperoleh dengan cara mengerjakan 'amalan yang baik.
Saudaraku seiman, datangnya bulan Ramadhan merupakan nikmat yang sangat besar bagi siapa saja yang mau menunaikan haknya dengan kembali kepada Allah dari bermaksiat kepada-Nya menuju keta'atan kepada-Nya, dari kelengahan menuju ingat kepada-Nya, dan dari keterjauhan dari-Nya untuk mendekat kepada-Nya.
Wahai orang yang tidak merasa cukup berbuat maksiat di bulan Rajab
Sehingga ia masih bermaksiat pula di bulan Sya'ban
Sungguh bulan puasa ini telah menaungimu sesudah keduanya
Karena itu jangan kau jadikan bulan ini sebagai bulan kemaksiatan
Bacalah al-Qur-an dan bertasbihlah di bulan ini dengan kesungguhan
Karena ia adalah bulan tasbih dan bulan al-Qur-an
Betapa engkau telah mengerti di antara orang yang berpuasa tahun lalu
Di antara keluarga, tetangga dan saudara-saudara
Kini telah dijemput oleh maut yang kini juga menunggu giliranmu
Karena itu, bergegaslah dengan 'amal shalih
Karena betapa dekatnya maut menjempit kita
Ya Allah, bangunkan kami dari kelengahan, dan berikan kami taufiq untuk bisa menambah ketaqwaan sebelum berpindah ke alam lain. Jadikanlah kami bisa mengisi waktu untuk melaksanakan kebaikan sebelum hilang kesempatan. Berilah kami ampunan, dan juga kedua orang tua kami serta seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang paling penyayang. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta kepada keluarga dan para shahabat seluruhnya. Aamiiiin.
Baca juga:
Keutamaan Puasa
===
Catatan Kaki:
1) Diriwayatkan oleh Imam al-Bazzar dan Imam al-Baihaqi dalam kitab ats-Tsawaab, dengan sanad yang sangat dha'if. Namun sebagiannya mempunyai syawaahid (hadits-hadits penguat) yang shahih.
2) Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
3) Hadits shahih berdasarkan berbagai syawahid-nya.
4) Redaksi hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi yang berasal dari hadits Jabir rodhiyaLLOOHU 'anhu. Imam Mundziri mengatakan: "Sanadnya mendekati bobot hadits sebelumnya." Maksudnya adalah hadits Abu Huroiroh rodhiyaLLOOHU 'anhu di depan.
===
Maraji'/Sumber:
Kitab: Majaalis Syahri Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penerbit: Daruts Tsuroyya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan V, 2012 M.